
Gabung dengan MyFreeShares, anda langsung dapat 1 shares. Tanpa perlu beraktifitas apapun, Anda akan dibayar setiap hari dari keuntungan MyFreeShares. Tertarik bergabung? Klik disini. Lihat keterangan lebih lanjut

Gabung dengan MyFreeShares, anda langsung dapat 1 shares. Tanpa perlu beraktifitas apapun, Anda akan dibayar setiap hari dari keuntungan MyFreeShares. Tertarik bergabung? Klik disini. Lihat keterangan lebih lanjut
Daerah Istimewa Yogyakarta dikenal kaya dengan tradisi budaya. Salah satunya upacara adat Saparan Bekakak yang telah ada sejak pemerintahan Sultan Hamengkubuwono I pada abad ke-18. Dalam upacara ini terdapat ritual menyembelih boneka sepasang pengantin.
Prosesi adat Saparan Bekakak acap mendapat perhatian ribuan warga. Ritual ini dimulai dari Lapangan Ambar-ketawang di Kecamatan Gamping, Sleman, DIY. Berbagai sesaji, berupa gunungan sayur mayur dan boneka bekakak diarak keliling Desa Ambar-ketawang sejauh empat kilometer dengan dikawal prajurit Kraton Yogyakarta dan pasukan berkuda.
Setelah dikirab, bekakak pun disembelih di lokasi bekas Gunung Gamping atau Gunung Kapur. Di sela-sela penyembelihan, gunungan sayur mayur juga dibagikan kepada pengunjung.
Dilihat dari asal katanya, Saparan diambil dari bulan sapar, yaitu bulan kedua dalam penanggalan Jawa. Sedangkan bekakak berarti korban penyembelihan. Bekakak dalam upacara ini diwujudkan dalam bentuk boneka pengantin laki-laki dan perempuan yang terbuat dari tepung ketan.
Upacara Saparan Bekakak ini digelar untuk memperingati kesetiaan seorang abdi kraton, Ki Wirosuto, kepada Sri Sultan Hamengkubuwono I. Ki Wirosuto yang merupakan abdi dalem kesayangan Sri Sultan meninggal akibat tertimpa Gunung Gamping yang runtuh. Atas perintah Sultan, masyarakat setempat diminta menggelar prosesi adat agar tidak lagi terjadi peristiwa serupa dan memakan korban jiwa.©

Bangsa Indonesia, termasuk juga orang Jawa, dikenal memiliki perasaan halus, serta tenggang rasa tinggi. Karena itulah mereka tidak menyukai orang sombong. Yaitu, orang yang congkak, pongah, angkuh, takabur, menghargai diri sendiri
berlebihan dan cenderung meremehkan (merendahkan) orang lain. Di Jawa, sombong dianggap sifat yang buruk (tak terpuji), dan sebaiknya dihindari karena akan jadi gangguan serius bagi komunitas dan lingkungannya.
Menurut pandangan masyarakat Jawa, orang sombong memiliki sifat sebagaimana unen-unen (peribahasa) yang berbunyi: ‘adigang adigung adiguna’.
Artinya, sifat menyombongkan diri pada kekuatan, kekuasaan, dan kepandaian yang dimiliki. Adigang, adalah gambaran dari watak kijang yang menyombongkan kekuatan larinya yang luar biasa. Adigung adalah kesombongan terhadap keluhuran, keturunan, kebangsawanan, pangkat, kedudukan, atau kekuasaan yang dimiliki.
Diibaratkan gajah yang besar dan nyaris tak terlawan oleh binatang lain. Sedangkan adiguna menyombongkan kepandaian (kecerdikan) seperti watak ular yang memiliki racun mematikan dari gigitannya.
Peribahasa ini mengingatkan bahwa kelebihan seseorang sering membuat sombong, lupa diri, sehingga berdampak buruk bagi yang bersangkutan maupun orang lain. Contohnya kijang. Secepat apa pun larinya sering terkejar juga oleh singa atau
harimau, dan apabila sudah demikian nasibnya hanya akan menjadi santapan raja hutan tersebut.
Dalam dongeng anak-anak diceritakan pula bagaimana gajah yang besar itu kalah oleh gigitan semut yang menyelinap di celah telapak kaki, atau ketika kaki si gajah tertusuk duri. Sedangkan ular belang yang sangat ditakuti itu pun akan mati lemas, tulang-tulangnya remuk, jika terkena sabetan carang (cabang) bambu ori (Bambusa arundinaceae).
Jadi, kelebihan yang dimiliki seseorang merupakan sesuatu yang “berguna” sekaligus “berbahaya”. Berguna apabila dimanfaatkan demi kebaikan, berbahaya jika hanya digunakan untuk kepuasan pribadi serta dorongan nafsu duniawi belaka.
Contohnya, benda-benda tajam seperti pisau, sabit, parang, dan lain sebagainya. Sebuah pisau memang harus tajam agar mudah untuk mengiris daging atau sayuran ketika memasak. Namun, jika menggunakannya ceroboh dapat melukai jari tangan. Lebih dari itu, karena tajam, kuat, dan runcing, pisau dapur pun dapat disalahgunakan untuk membunuh orang.
Sebagaimana lazimnya strategi dalam kebudayaan Jawa, umumnya setiap peribahasa tidak berdiri sendiri dan sering berkaitan dengan peribahasa lain. Misalnya, adigang-adigung-adiguna punya korelasi erat dalam konteks menasihati
kesombongan dengan “aja dumeh”. Artinya: jangan sok atau mentang-mentang.
Terjemahan bebasnya adalah jangan suka memamerkan serta menggunakan apa yang dimiliki untuk menekan, meremehkan, atau menghina orang lain. Misalnya: aja dumeh sugih (jangan mentang-mentang kaya), dan menggunakan kekayaannya untuk berbuat
semena-mena.
Mengapa demikian, sebab harta kekayaan itu tidak lestari dan sewaktu-waktu dapat hilang (tidak dimiliki lagi). Aja dumeh kuwasa (jangan mentang-mentang berkuasa ketika menjadi pejabat/pemimpin) kemudian berbuat semaunya sendiri. Mengapa demikian, sebab jika masyarakat yang dipimpin tidak menyukai lagi yang bersangkutan dapat diturunkan dari jabatannya.
Di Jawa terdapat kepercayaan bahwa segala yang dimiliki manusia hanyalah titipan Tuhan. Dengan demikian kepemilikan itupun bersifat fana. Tanpa keridaan (seizin) Tuhan, tidak mungkin yang bersangkutan memilikinya.
Selain itu, kekayaan yang dimiliki seseorang realitasnya juga diperoleh atas jasa (pemberian) orang lain. Contohnya, mana mungkin pedagang memperoleh laba dan kekayaan yang berlimpah tanpa melakukan transaksi dengan masyarakat? Berdasarkan pendapat di atas, peribahasa ini menasihatkan agar siapa pun jangan mempunyai sifat sok.
Mentang-mentang kaya menolak menyedekahkan sebagian hartanya untuk orang miskin. Mentang-mentang jadi pemimpin tidak mau bergotong-royong dengan tetangga. Menurut adat Jawa, sikap seperti itu sangat tercela dan menyakitkan hati orang lain.
Maka, dengan memadukan dua peribahasa di atas dimungkinkan pesan muatan yang disampaikan akan lebih dimudah diurai, di samping daya tembusnya juga makin kuat memasuki kesadaran pikir, rasa, dan hati sanubari.
Contohnya, nasihat tersebut akan berbunyi: “Aja dumeh sekti mandraguna banjur duwe watak adiguna kaya ula. Ora ketang wisane mandi, nanging kesabet carang pring ori wae bakal dadi bathang selawase.” (Terjemahan bebasnya: “Jangan mentang-mentang sakti kemudian berwatak seperti ular. Meskipun bisanya mematikan, tetapi kena gebuk cabang bambu ori saja akan menjadi bangkai selamanya.”).
Orang sombong dapat dianalogikan seperti kijang yang melintas di depan kerumunan singa atau harimau di tengah hutan, seekor gajah yang sengaja menginjak-injak sarang semut atau semak perdu berduri, seekor ular yang sengaja atau tidak telah masuk ke halaman rumah orang di perkampungan.
Mungkin saja sekali dua kali selamat. Namun, untuk ke sekian kalinya kesombongan itu pasti akan menjadi batu sandungan yang membuat dirinya jatuh terjerembab mencium bumi dan tidak dapat bangkit kembali?
DUNIA ROH ORANG JAWA
Hubungan Antara Dunia Roh Dan Dunia Yang Nyata(Masuk Akal)
Diperjelas Dengan
Petangan/Hitungan
oleh H. A. Hien
Jilid II
“TĚNGĚRAN”
Buku yang ditulis dengan bahasa belanda ini berisikan tentang petangan(hitungan) orang jawa. Cuplikan dari buku tersebut di antaranya adalah
“Tiang Pasek”
Dengan diskripsi dari petangan kita akan mengetahui sesuatu yang akan datang. Dalam penggunaan tiang pasek, kelas apakah yang akan disiapkan dibagianpertama yang akan dibahas. Setelah ini, kembali kepada pemujaan yang dihormati oleh kelas.
Pertama : Tiang Pasek tidak tunduk pada seorang pemuja apapun. Syarat untuk hal ini adalah:
Faktor-faktor, yang merupakan fetisisme muncul, adalah:
Menunjukkan yang diusulkan adalah penyembahan terhadap Tiang Pasek objek sensual dimengerti sebagai makhluk bernyawa. Metode ibadah berbeda. Kadang-kadang mereka menyembah jiwa objek, kadang-kadang obyek itu sendiri, kemudian mempertimbangkan lagi objek sebagai alat pikiran yang kuat, atau berpendapat bahwa mereka objek oleh tanda dikenal kesaktian mereka, kemudian tetapi bahwa kekuasaan melalui penyediaan hal-hal tertentu dapat di terangsang, sehingga sering sulit untuk menilai, atau penghormatan dari spiritualisme adalah fetisisme. Penyembahan objek sensual dapat dimengerti, yang tak seorang pun memiliki bagian. itu adalah jiwa dari objek yang dihormati atau ditakuti, sementara benda-benda yang dipuja oleh pemilik, pengabdian yang sebenarnya obyek itu sendiri.
Tanda-tanda khusus kepada orang-orang, hewan dan benda-benda dianggap kebahagiaan atau ketidakbahagiaan saat mereka membuatnya, dalam manusia untuk dirinya sendiri dan kadang-kadang bagi orang lain, dalam hewan dan objek bagi pemiliknya, dengan Tanda-tanda bahwa orang-orang, binatang dan benda-benda dianggap berbakat dengan kekuatan supranatural dan karena itu pantas untuk dihormati atau menjadi ditakuti.
Mendengar, melihat, merasakan dan mimpi akan sesuatu yang istimewa, mereka anggap sebagai pertanda dan peringatan oleh roh yang kuat, setelah itu mereka akan segera mengumumkan keberuntungan atau kemalangan, maka pertanda ini dihormati atau ditakuti.
Selain itu, mereka mencari, dengan kegiatan usaha tertentu, atau menjauh dari
orang lain untuk ingat, kesaktian generasi dan dengan itu kebahagiaan untuk mempromosikan atau menghindari kecelakaan, yang menyebabkan hal ini kasus obyek penyembahan yang lain atau takut.
Tapi campuran yang aneh dari jalinan spiritualisme dan fetisisme, sehingga orang dapat berasumsi bahwa praktek Tiang Pasek itu memilih tengah dan kadang-kadang spiritualisme daripada sebaliknya yang didasarkan fetisisme.
Kami akan mencoba berbagai ekspresi dari fetisisme
Dari petangan, ketika Tiang Pasek menggunakan, untuk menunjukkan kesetiaan dan layar pemutaran. Terkait erat dengan negara ini petangan keyakinan di hari-hari yang buruk “Tanggal-Nahas dan yang baik dan buruk dalam sehari” Ghaibnya Hari ” dan “Pantja Soeda,”dan” Patjak-Rolas “dalam bagian pertama menggambarkan kelompok masyarakat.
W I R I D
(Mistik Ajaran)
[Oleh Raden Ngabehi Ranggawarsita]
![]()
Ini adalah Kitab Ajaran Mistik Mengatakan Apa yang Diajarkan Delapan Orang Suci.
Diterbitkan oleh Administrasi (surat kabar) gapite Jawi di Surakarta dan Dicetak oleh Press of NV Mij. t / v d / z ALBERT RUSCHE & CO, Surakarta, 1908.
BUKU ajaran mistis
Pendahuluan
Ini adalah ajaran disebut Hidayat Jati (Wahyu Illahi Yang Benar) yang menjelaskan tingkat makrifat (gnosis) dan berdasarkan sejarah Jawa orang-orang kudus (atau hamba-hamba dari Allah, wali). Setelah kematian Sunan Ampel, masing-masing suci mengajarkan ajaran mistis-nya sendiri, yang berfungsi sebagai ajaran mistik benih, untuk pengembangan pribadi dalam arah kesempurnaan batin. Seperti semua ajaran-ajaran mistis (wirid), mereka adalah berasal dari Quran, hadis (tradisi Nabi), maka keputusan dengan suara bulat diterima ulama (ijmak), serta analogi (qiyas), dan mereka menduduki tingkat berikut:
Generasi pertama, pada awal Kerajaan Demak, terdiri dari hanya delapan orang:
1. Sunan Giri Kadhaton diajarkan rahasia tentang kemuliaan Esensi Ilahi (dzat).
2. Sunan Tandes mengajarkan bagaimana hakikat Ilahiah ditransmisikan.
3. Sunan Majagung diajarkan di mana hakikat Ilahiah berada.
4. Sunan Benang diajarkan tentang pembukaan Baitul Makmur (rumah yang penuh).
5. Sunan Wuryapada diajarkan tentang pembukaan Baitul Muharram (tempat terlarang).
6. Sunan Kalinyamat mengajarkan cara untuk menguatkan iman seseorang.
7. Sunan Gunungjati mengajarkan tentang Baitul Muharram (tempat terlarang).
8. Sunan Kajênar diajarkan tentang hal-hal yang disaksikan.
Yang kedua, generasi lain antara akhir Kerajaan Demak dan awal Kerajaan Pajang, terdiri dari delapan orang kudus hanya bersedia untuk mengajar:
1. Sunan Giri Parapen diajarkan rahasia tentang hakikat Ilahiah dan sifatnya.
2. Sunan Darajat menjelaskan bagaimana hakikat Ilahiah itu disampaikan.
3. Sunan Ngatasangin diajarkan di mana hakikat Ilahiah berada.
4. Sunan Kalijaga mengajarkan tentang struktur Baitul Makmur, diikuti oleh semua yang berkaitan dengan Dzat ilahi menggabungkan menjadi satu sifat, tapi tanpa instruksi yang jelas seperti dengan urutan yang mereka dilakukan.
5. Sunan Têmbayat diperbolehkan oleh gurunya, Sunan Kalijaga, untuk mengajar tentang struktur Baitul Muharram.
6. Sunan Kalinyamat tentang Baitul Muqaddas (Rumah Suci).
7. Sunan Gunung Jati mengajarkan cara untuk memperkuat nasib seseorang.
8. Sunan Kajênar diajarkan tentang hal-hal yang disaksikan.
Yang ketiga, masih satu generasi antara akhir Kerajaan Demak dan awal Kerajaan Pajang, juga hanya terdiri dari delapan orang kudus bersedia untuk mengajar:
1. Sunan Parapen memberikan indikasi tentang Esensi Ilahi (dzat).
2. Sunan Darajat menjelaskan hakikat Ilahiah.
3. Sunan Ngatasangin mengajarkan apa hakikat Ilahiah seperti secara rinci.
4. Sunan Kalijaga mengajarkan tentang Baitul Makmur diikuti oleh semua yang berkaitan dengan Dzat ilahi digabungkan menjadi satu sifat, tapi tanpa instruksi yang jelas seperti dengan urutan yang mereka dilakukan.
5. Sunan Têmbayat diperbolehkan oleh gurunya, Sunan Kalijaga, untuk mengajarkan tentang Baitul Muharram.
6. Sunan Padusan tentang Baitul Muqaddas (Rumah Suci).
7. Sunan Kudus mengajarkan cara untuk memperkuat nasib seseorang.
8. Sunan Geseng diajarkan tentang hal-hal yang disaksikan.
Semua ajaran ini adalah satu dalam pengertian bahwa mereka didasarkan pada doktrin Sunan Ampeldênta. Ketika tiba era Matraman, Hanyakrakusuma Sultan Agung memutuskan untuk menggabungkan delapan ajaran untuk membuat mereka benar-benar dimengerti. Mereka bergabung menjadi satu pengajaran. Setelah ini telah disetujui oleh para ahli di gnosis, Sultan Agung berwenang untuk mengajar berikut ini:
1. Panembahan Purubaya,
2. Panembahan Ratupekik,
3. Panembahan Jurukithing,
4. Pangeran Kadilangu,
5. Pangeran Kudus,
6. Pangeran Tembayat,
7. Pangeran Wangga, dan
8. Panembahan Juminah.
Semua ajaran-ajaran ini berasal dari kutipan dari buku-buku tentang Tasawuf (Sufisme) dan kuat didasarkan pada pengetahuan sejati. Mereka panduan dimaksudkan untuk memperjelas kata-kata Allah kepada Nabi Musa bahwa manusia adalah manifestasi dari hakikat Ilahiah yang Satu di alam. Ini adalah inti dari gnosis sebagaimana diajarkan oleh para nabi dan orang-orang kudus yang tua dan titik awal untuk berbagai macam ajaran-ajaran para imam secara individual. Ketika mereka digabungkan oleh Sultan Agung Matraman, mereka sepenuhnya sejalan dengan ajaran-ajaran gnosis, tetapi dengan waktu mereka mulai terpecah lagi sebagai akibat banyaknya guru-guru, masing-masing dengan sudut pandangnya sendiri. Beberapa terbatas gnosis ajaran mereka, tetapi yang lain membawa okultisme seperti tak terkalahkan dan seni bela diri. Kemudian indikasi diterima oleh Kyai Ageng Muhammad Sirrullah [samaran R. Ng. Ranggawarsita sendiri] dari Kedhung Kol, di sebelah selatan Kol Kedhung penganten, di tahun Jawa Alif (1779) bahwa Tuhan bersedia baginya untuk merevisi ajaran gnosis dan mengembalikan mereka ke negara asli mereka. [Diskusi chronogram sangat jelas dihilangkan. Trans.]
Bab 1
Ini adalah awal dari ajaran-ajaran mistis untuk menjelaskan bagaimana gnosis diajarkan untuk kesempurnaan hidup. Orang-orang kudus melakukannya seperti yang dijelaskan di sini di bawah ini.
Hal ini diperlukan bahwa aspiran (murid) melakukan wudhu yang lebih kecil (wudhu) dan negara niatnya (niat) sebagai berikut:
“Nawaitu raf’al hadast shaghirata wal kabirata fardlan lillahi ta’ala, Allahu Akbar.” (Aku berniat untuk menghapus dosa-dosa saya dan saya ringan dosa-dosa fana demi Tuhan. Allah adalah yang paling besar.)
Lalu ia harus mengenakan pakaian yang bersih bebas dari benang emas. Adalah baik untuk memakai penutup kepala. Dia meninggalkan telanjang dada, memakai pewangi, dan menghiasi telinga kirinya dengan bunga-bunga berbenang dalam surengpati (tidak takut mati) pola. Di lehernya ia mengenakan bunga tiga helai benang di usus ayam mengikuti gaya margasupana (cara untuk memperoleh kekuatan supranatural) pola atau jenis bunga pinggiran berbenang melekat pada gagang keris adat untuk pengantin laki-laki.
Lalu ruangan yang akan digunakan untuk pelajaran harus diatur. Tanaman harus ditempatkan di keempat sudut. Tikar bersih harus disebarkan, dan di atas mereka sekrup baru tikar pinus yang tersebar pada tujuh lapis kain katun putih polos, atau setidaknya tak kurang dari tiga, di mana berbagai jenis bunga yang ditaburkan.
Sebuah mahar koin sebanyak 38,5 gram perak ditempatkan dalam sebuah wadah dengan parfum dan dupa butir berat seperti sebuah koin perak Rp2.50. Ini ditutupi dengan kain putih. Dua tandan pisang raja, daun sirih segar, dan tangkai dari buah pinang juga dibungkus kain putih untuk membentuk wadah kedua. Bersama dengan dua tandan bunga palem sirih, ini ditawarkan di tempat dimana ajaran akan disampaikan.
Setelah tengah malam, ketika semua orang tidur, orang-orang yang berminat melanjutkan ke tempat. Para aspiran duduk menghadap ke barat. Dupa dibakar, dan telinga kiri, hidung, dan dada dari masing-masing calon adalah censed. Lalu guru mulai menginstruksikan aspiran di hadapan empat orang saksi keyakinan yang sama.
Pengajaran terdiri dari ajaran-ajaran terkompilasi dari delapan orang kudus Jawa, dihiasi dengan esensi firman Allah yang Nabi Muhammad, kepada siapa kedamaian, berbicara ke telinga kiri Sayidina Ali. Ada delapan bagian.
Sumber : http://www.xs4all.nl
Wirid Hidayat Jati ( Rangga Warsito)
|
|
Jawa |
|
Indonesia |
|
|
|
Wejangan |
|
Nasehat |
|
|
1 |
Wejangan Sajatine |
|
Nasehat Sesungguhnya paling namaKU, |
|
|
2 |
Wejangan sajatine sampurna bebukaning sajroning mirhatulkayai, dhindhing |
|
Nasehat Sesungguhnya jadi sebagai tumbuh Nur lalu pembatas |
|
|
3 |
Wejangan Sajatine
|
|
Nasehat Sesungguhnya berasal tempatkan suci.
|
|
|
4 |
Wejangan sajatine
|
|
Nasehat Sesungguhnya kepala di rahsa, yang
|
|
|
5 |
Wejangan sajatine |
|
Nasehat Sesungguhnya dada budi, rahsa sesungguhnya. |
|
|
6 |
Wejangan sajatine |
|
Nasehat Sesungguhnya penis/alat itu dalam keberadaan alam manusia |
|
|
7 |
Wejangan Ingsun |
|
Nasehat AKU sesungguhnya |
|
|
8 |
Wejangan Ingsun
|
|
Nasehat ke-8 AKU menyaksikan Nasehat ini |
|
|
|
|
|
|
|
Surat-Surat dari Putri Jawa (1920) R.A. Kartini
Surat-surat Raden Adjeng Kartini pertama kali diterbitkan di Den Haag
pada tahun 1911 di bawah judul, “Door Duistemis tot Licht” (Habis Kegelapan
Terbitlah Terang). Surat tersebut dikumpulkan dan diedit oleh Dr JH Abendanon,
mantan Menteri Pendidikan dan Industri Hindia-Belanda.
Banyak surat-surat itu ditulis untuk dirinya dan istrinya ,Moedertje.’
kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Agnes Louise Symmers, dalam versi dalam versi bahasa Inggris ini, yang merupakan pilihan yang terdiri dari sekitar dua-pertiga dari buku aslinya.
Buku ini dicetak sebanyak lima kali, dan pada cetakan terakhir terdapat tambahan surat Kartini.
Selengkapnya kumpulan surat-surat R.A Kartini dalam versi bahasa Inggris dapat dilihat kesini. (pdf atau text)
Buku ini mencakup mitologi Hindu selama periode Weda dan Purana. Wilkins memulai dengan patheon yang sangatt awal dalam Veda, seperti Surya, badai-dewa Maruts, Agni, Soma, Yama, dan Dewi Ushas fajar. Dari sana ia bergerak ke dalam, dan sangat rumit, mitologi Purana. Hal ini mencakup perlakuan rinci dari pusat tiga serangkai Brahma, Wisnu dan Siwa, bersama dengan puluhan dewa dan dewi-dewi lain, alam roh, setengah-ilahi pahlawan dari epos, dan seterusnya. Wilkins mencakup beberapa lusin sehingga terdapat Avatar dari Vishu utama, termasuk Kresna dan Buddha, dan nubuat dari Penanya Kalki misterius, belum datang. Puluhan gambar garis seni referensi yang baik untuk masing-masing dewa utama. Jika Anda mencoba membaca melalui dari Rig-Veda, Mahabharata atau Ramayana, buku ini akan menjernihkan banyak kebingungan.
Tentang
Ramayana Dan Mahabharata
Ramayana adalah satu dari pada kedua epos (cerita pahlawan) Sansakerta India yang terbesar. Kedua epos ini
tersebut, Ramayan dan Mahabharata, sudah menjadi harta pusaka nasional India semenjak 2000 lebih tahun yang lalu dan pengaruhnya atas pandangan kehidupan rohaniah dan agama bangsa India. Meskipun begitu, isi kedua epos ini dalam banyak hal bertentangan seperti siang dan malam. Mahabharata dalam bentuk sastranya adalah tokoh dari pada cerita-cerita legenda popular yang oleh bangsa India dinamakan purana. Ramayana sebaliknya dapat dimasukan dalam seni epos yang oleh orang India dinamakan “Kawja” yang sifatnya lebih mementingkan bentuk dari pada isi, sehingga tidak jarang dijumpai didalamnya perhiasan–perhiasan yang ditambahkan oleh penyairnya dengan begitu saja untuk kepentingan mambaguskan semata. Mahabharata sebaliknya sangat lambat pertumbuhannya dan
lebih merupakan sastra yang tumbuh secara evolusi. Bagian-bagiannya lebih mementingkan ikatan yang take rat di sekeliling inti ceritanya yang menempati tidak jauh lebih daripada 1/15 dari keseluruhannya. Kalau diteliti benar-benar
Mahabharata sebenarnya bukan epos dalan yang sebenarnya, akan tetapi lebih merupakan ensiklopedia bagi moral. Ramayana sebaliknya adalah epos dalam arti yang sebenarnya, epos yang romantic, padu dalam bentuk dan
susunannya. Ramayana adalah ciptaan seorang pujangga yan bernama Walmiki. Ramayana merupakan satu cerita yang tersusun baik , agak terpelihara daripada bagian-bagian yang disisipkan dengan begitu saja, yang menyebabkan ia lebih
pendek dari Mahabharata. Peperangan yang menjadi inti dari Mahabharta adalah pertarungan antara manusia dengan manusia, sedangakan Ramayana menggambarkan perjuangan raksasa dan iblis, sebagaimana dijumpai dalam dongeng. Selain itu pada Mahabharata disusun di bagian Barat India-Utara di Madyadesa atau bagian Tengah, yang
terletak antara batas Timur Punjab dan Allahabad. Ramayana diciptakan dikerajaan Kosala-Purba disebalah Utara, tempat yang mejadi Sungai Nil,kira-kira di Oudh sekarang ini.
Sb:
Usman Effendi:J.B Wolters